Tuesday, March 18, 2008

Kisah di Balik Angkutan Umum (1)


Dari dulu, saya senang sekali menggunakan jasa angkutan umum. Dari angkot, bajaj, metromini (asal mendapatkan tempat duduk :), kereta api, ojek, becak (apalagi kalau atapnya dibiarkan terbuka..hi..hi), hingga andhong. Bahkan sebelum menikah, saya hafal dengan jalur-jalur metromini di Jakarta. Jadwal kereta api salah satu rute yang paling sering saya tumpangi juga selalu terlipat rapi di dompet, pertanda bahwa setiap saat saya siap untuk bepergian dengannya.

Memperhatikan tingkah laku orang di sekitar tempat saya berdiri atau duduk menjadi salah satu hal yang mengasyikkan. Ya, kalau sedang macet atau menunggu kereta yang bersilangan lewat, what else can be done:). Apalagi saya bukan tipe orang yang bisa membaca dengan nikmat saat berada di angkutan umum.


Sewaktu saya masih tinggal di rumah kontrakan di bilangan Utan Kayu, angkot dengan seri M35 selalu setia mengantarku pulang pergi dari dan ke kantor. Apalagi kalau suami sedang lembur atau dinas ke luar kota. Akibatnya, aku sempat hafal dengan tingkah laku hampir semua sopir, mengingat sopir dengan trayek tersebut hanya dipegang oleh beberapa orang. Salah satu sopir gemar sekali ngebut. Jajaran polisi tidur yang memenuhi jalur Senen - Utan Kayu dan terbaring tak berdaya tidak pernah diperhatikannya. Walhasil, penumpang dibuat sebal karena setiap kali kepala mereka terantuk dengan atap kendaraan. Karena sudah hafal, saya selalu memilih untuk duduk di samping bapak supir yang sedang bekerja setiap supir 'perally' tersebut memegang kendali. Paling tidak, efek benturan tidaklah separah bagi yang duduk di belakang.


Kereta api. Menggunakan jasa kereta api ekonomi jurusan Bintaro/Serpong - Tanah Abang/Kota pada hari libur juga sangat saya gemari. Apalagi kalau bukan karena hadirnya puluhan penjual berbagai macam produk dan hasil bumi dengan harga yang murah meriah. Bayangkan, saat itu jeruk mandarin bisa kudapat hanya dengan 5000 rupiah untuk setiap 10 bijinya. Semangka tanpa biji satu bulat besar bisa kubawa pulang tanpa perlu merogoh kantong dalam-dalam. Belum lagi buku-buku gambar dan berbagai macam poster yang sangat bagus untuk sarana belajar anak-anak, jepit rambut yang penuh warna, majalah wanita yang sudah out of date tapi masih layak baca, hingga aneka makanan dan buah yang sudah jarang kita temui: kacang kedelai rebus yang masih melekat di kuntum coklatnya, tape uli, duwet (jamblang), bahkan buah kecapi. Jumlah penumpang pada hari libur yang tidak begitu banyak membuat para pembeli merasa nyaman untuk memilih barang yang disukai. Namun sayangnya, kenikmatan tersebut tidak bisa saya rasakan pada hari-hari biasa, karena jumlah penumpang yang padat dan berjejal. Akibatnya, alih-alih menggunakan kereta kelas ekonomi, saya lebih suka membeli tiket kereta AC yang lebih mahal. Tentu saja dengan mengorbankan opportunity cost berupa keasyikan membeli barang-barang ekstra murah tersebut..ha..ha..


Kembali pada kegemaran saya menikmati tingkah laku penumpang lain. Dulu sekali, sebelum saya menemukan kegemaran yang satu ini, saya lebih suka tidur. Mau di dalam angkot yang ngebut ampun-ampunan ataupun metromini yang gemar ngerem mendadak, saya bisa tertidur nyenyak. Sampai bermimpi malah...ha..ha.. (asal jangan ngeces aja ya..hi..hi..). Bahkan, pernah saya jatuh terduduk dari bangku oranye menyala di sebuah metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu, saking yahudnya saya tertidur. Padahal asal tau aja, dari arah Blok M jarak yang kutempuh tidak begitu jauh, mengingat kantor tempatku bekerja saat itu terletak di daerah Purnawarman, Kebayoran Baru. Terdorong hingga sampai ke depan, yang terjadi karena efek kelembaman saat si Metro berhenti mendadak, juga pernah. Sebenarnya penyebab utamanya adalah pegangan tanganku yang saat itu tidak terlalu kuat karena, tentu saja: tidur sambil berdiri !!! Hwarakadah...

Namun, semenjak saya menemukan keasyikkan tersendiri dengan memperhatikan tingkah laku penumpang, kebiasaan tidur di angkutan umum jauh berkurang. Ada penumpang yang selalu tertidur (he..he..aku punya teman rupanya:), membaca koran/buku setiap saat, sibuk memilih barang yang ditawarkan oleh penjual tapi tidak membelinya, melamun sambil membuang pandangan ke luar jendela, bahkan ada yang sering keliatan asyik ... NGUPIL .. hi .. hi .. hi ..


Picts are taken from here, here, here, and here.

Wednesday, March 12, 2008

Northern Lights Festival

Beberapa hari yang lalu, kami mempunyai waktu luang untuk membelah malam kota Adelaide. Kebetulan, waktu kami beberapa hari terakhir ini tidak lagi menjadi scarce resource. Dan, kamipun mengambil kesempatan itu. Berjalan-jalan sambil melihat Northern Lights Festival yang diadakan di pusat kota. Tentu saja, tetap dengan mempertimbangkan opportunity cost bahwa kami harus menunda tidur malam kami yang manis.

Festival lampu diadakan di empat bangunan di pusat kota, yang keempatnya terletak berdampingan: 2 gedung University of Adelaide, South Australian Museum, dan State Library of South Australia. Semula, kami kira festival tersebut akan berlangsung biasa saja. Apalagi siang harinya, kami baru saja dikecewakan oleh salah satu pameran animal show yang sangat mengecewakan, tidak sebanding dengan biaya tiket yang harus dikeluarkan. Namun ternyata perkiraan kami salah. Saat kami tiba di tempat pameran, wahhhhh... indah sekali.

Di depan masing-masing gedung tersebut, diletakkan box besar berisi proyektor yang berfungsi menyorotkan cahaya ke muka bangunan. Alhasil, cahaya tersebut sanggup merubah total penampakan gedung-gedung tersebut. Sulit digambarkan dengan kata-kata. Bahkan, foto-foto yang kami hasilkan juga tidak sanggup mewakili keindahan tersebut (he..he..alesan aja, padahal yang dipakai kamera abal-abal:). Coba lihat beberapa foto berikut, dan berikan komentar anda:)



Coba bandingkan dengan yang ini:



dan ini...




Gambar di atas adalah Bonython Hall (salah satu bangunan Adelaide Uni), sebelum dan sesudah disulap oleh lampu festival. Perubahan yang cantik bukan?


Mari berpindah ke gedung lain di universitas yang sama, Elder Conservatorium of Music.

Penampilan sepanjang hari:



Tampilan setelah dipapar oleh lampu festival:

Tema: Musik


Tema: Penuh dedaunan yang menjalar


Tema: Coklat


Dua gambar lain yang sempat kami tangkap dan saya anggap layak untuk ditampilkan:







Untuk mendapatkan efek 3 dimensi pada dua bangunan yang lain, selain sisi muka gedung, lampu juga dipaparkan pada sisi-sisi samping. Berikut gambarnya:







Perhatikan detail pada gambar berikut: terdapat gambar stempel, lembaran koran-koran lama, dan juga surat tulisan tangan yang dikirim lewat pos (theme sesuai sekali dengan fungsi gedung, library). Detail yang sangat cantik dan rumit bukan?




Dan, akhirnya kamipun pulang. Sungguh, kami sangat puas dengan festival ini. Cantik dan mengagumkan karena efek lampu begitu memperhatikan detail yang sangat rumit. Tak ada bayangan lampu yang meleset. Setiap lubang, jendela, pintu dan ornamen-ornamen gedung diperhatikan. Sangat puas, mengetahui opportunity cost yang kami korbankan tidak sebanding dengan pengalaman yang kami dapat (Duhh .. maaf ya kalau bahasanya serba cost dan expense, baru belajar ekonomi soalnya:)

Saturday, March 08, 2008

Sebentuk Kejujuran

Baru-baru ini, suami mempunyai suatu urusan yang membuatnya harus pergi ke kantor polisi. He..he..jangan berpikir yang negatif dulu ya.. Rencananya, dia hendak mengajukan Police Clearance, sebuah persyaratan yang harus dipenuhi saat melamar salah satu casual job disini.

Sesampainya di kantor polisi terdekat, suami ditemui oleh salah satu Police Officer, dan terjadilah percakapan berikut:

P: "Good morning, Sir. How can I help you?

S: "Good morning, how're you? I wanna get a Police Clearance. Can I get it here, please?

P: "Yes sure, Sir. It will be finished in 2 weeks and cost you A$ 46.50."

S: "Ok then." kata suamiku sambil mengeluarkan kartunya.

P: "I'm sorry, Sir.. but we don't accept a plastic here" police tersebut mengisyaratkan bahwa mereka hanya menerima cash, alih-alih kartu debit/kredit.

S: "That's alright. But let me take out some cash then, since I don't bring any" ujar suamiku.

P: "Ok, see you"


Sekembalinya dari mesin ATM, suami segera menuju ke counter dimana bapak polisi yang tadi melayani berada. Namun ternyata, si petugas telah berganti dengan sosok yang lain. Kali ini, polisi pengganti terlihat jauh lebih tua. Setelah berbasa-basi sebentar, si petugas berkata:

P:"Yup, the cost is A$47.50 and it will take about 2 weeks max."

Suamikupun menyerahkan uang sejumlah tersebut di atas. Namun demikian, tak luput timbul pertanyaan dalam hati suami: kenapa cost yang diminta berubah, lebih besar $1 dibanding petugas awal. Karena selisih yang ada tidak begitu material, dia tidak begitu mempersalahkannya. Tidak ada bukti berupa receipt (kwitansi) yang diberikan.

Suamipun keluar dari kantor polisi, menuju tempat dimana mobilnya diparkir. Belum sampai pintu mobil terbuka, terlihat seseorang berusaha menghentikan suami.

"Excuse me, sir"... teriak seseorang sambil berlari-lari. Oh..ternyata si bapak-polisi-tua-yang-melayani-terakhir-kali.

"I've made a mistake about the cost" katanya terengah-engah, maklum jarak antara kantor polisi dengan tempat parkir lumayan jauh. "I should say A$46.50, instead of A$47.50." terangnya lagi.

"Here's your change. I'm really sorry about that" katanya sambil menyerahkan koin satu dollar-an.

"Thank you" sahut suamiku saat si polisi menjauh, antara terpana dan bingung hendak mengucapkan kalimat apa yang tepat.

Kisah di atas adalah nyata adanya. Kisah yang mencerminkan sebuah kejujuran yang saat ini sepertinya sudah jarang bisa kita temukan. Masih teringat, bagaimana kasus polisi Indonesia yang sempat tertangkap oleh kamera dan beredar di YouTube. Masih terngiang, bagaimana polisi menghentikan motor kami di depan kantor tempat aku bekerja sambil memberikan isyarat bahwa proses pengadilan akan jauh berbelit (tanpa kami tahu, kesalahan apa yang kami perbuat).

Saya percaya, masih banyak polisi Indonesia yang jujur dan mempunyai komitmen yang tinggi atas pekerjaannya. Semoga, kisah ini bisa menjadi salah satu pemicu semangat bagi para polisi Indonesia dan kita semua untuk menjunjung sebentuk kejujuran. Hanya demi mengembalikan uang satu dollar yang bukan haknya, si polisi tua rela berlari jauh. Uang yang bahkan, kalau tidak dia kembalikanpun, tak seorangpun akan mengetahuinya karena tak ada receipt maupun tanda bukti yang tersurat. Hanya sebentuk kejujuranlah yang telah menggerakkan kaki-kaki polisi itu. Untuk mengembalikan uang satu dollar yang bukan haknya. Hanya satu dollar.

Adelaide, 8th March 2008

Tuesday, February 26, 2008

Clipsal 500 Adelaide


Clipsal 500 Adelaide yang dimulai sejak tanggal 21 February telah berakhir. Karena kebetulan unit yang kami tinggali terletak dekat sekali dengan jalur rally, banyak fasilitas yang bisa ikut kami nikmati. Termasuk salah satunya, melihat rally 'kelas pagar'. Terinspirasi oleh film The Cars, putri kecilku menjadi satu-satunya anggota keluarga yang paling bersemangat menyambut event rally ini. Saat turun dari mobil antar jemput sekolahnya, dengan bersemangat kaki-kaki kecilnya tergegas berlari ke arah pagar tinggi di ujung jalan unit kami, tempat dimana dia menikmati deru mesin dari mobil-mobil formula 3 yang saling bersaing untuk memperebutkan tempat pertama. Mulutnya tak henti berteriak, menempatkan tokoh-tokoh The Cars ke dalam bayang-bayang mobil yang tak henti berkelebat, yang bagiku, terlihat seperti bayang-bayang dementor sedang bermain quidditch. Efek kelembaman dan momentum dari gerakan mobil-mobil tersebut seperti diabaikan begitu saja, baik oleh perally maupun penonton. Semua larut dalam hiruk pikuk rally yang entah tingkat kebisingannya menembus berapa angka skala decibel.

Setelah tiga hari si kecil menikmati rally kelas pagar, akhirnya kami pun sepakat untuk membeli tiket rally pada penghujung minggu, hari dimana event rally tersebut ditutup. Dengan semangat penuh, kami berangkat pagi-pagi dengan berbekal makanan secukupnya (halah...gaya, cuman 20 meter jalan ini:p ). Singkat cerita, pengalaman kami pada hari itu bertambah banyak. Saya, yang sebelumnya tidak pernah suka dengan deru mesin yang terasa memekakkan telinga, perlahan mulai menikmatinya. Perburuan foto juga berlangsung sukses. Dari semula, memang menjadi niat kami untuk mengumpulkan gambar-gambar yang menarik sebanyak mungkin. He..he.. memang dasarnya kami semua banci foto:)

Sepanjang hari berjalan lancar, kecuali tentu saja, gemuruh suara pesawat tempur sebagai pertanda rally dimulai, tetap menjadi musuh utamaku. Lututku terasa lemas setiap mendengar gelegar pesawat-pesawat tersebut. Pernah kubayangkan kalau kedua lututku ini mungkin terbuat dari gabus, mengingat segala bentuk keterkejutan selalu membuat mereka seperti meleleh, bergetar tanpa sanggup kukendalikan.

Kami sempat pulang untuk menunaikan segala bentuk kewajiban dan, tentu saja, mengumpulkan energy untuk menyaksikan konser musik pada malam harinya. Ya, kami memang dibuat penasaran dengan konser Santana yang akan dilangsungkan sebagai penutup acara. Saat tiba di tempat konser, saya sungguh tak mengira suasana demikian ramai. Tanah lapang tempat konser diadakan tumpah ruah dengan ribuan manusia. Padat, penuh sesak. Sosok kami bertiga yang terhitung mungil menjadi seperti tertelan. Panggung konser tak terlihat, tertutupi oleh punggung-punggung manusia yang memang rata-rata jauh lebih tinggi dibanding kami. Aku hanya bisa tertawa, membayangkan kami adalah liliput yang salah masuk ke dalam pesta kaum raksasa. Dan kami pun pulang jauh sebelum konser selesai, menyadari bahwa sepenggal acara konser yang tidak bisa kami nikmati tersebut cukup mewakili seluruh jalannya acara. Saatnya kembali ke sarang, membasuh kaki yang tebal terselimuti debu, dan merentang tubuh agar seluruh anggotanya dapat menikmati hak untuk melepas lelah.

Wednesday, February 20, 2008

Portfolio Theory and Management



Judul tersebut di atas adalah salah satu subject yang kuambil semester kemarin. Mungkin sudah menjadi berita basi kalau mata kuliah finance menjadi histeria tersendiri bagi sebagian besar student di uniku. Ya, memang menakutkan karena desas-desus liar mengatakan bahwa rata-rata tingkat fail dari hampir seluruh subject finance adalah sekitar 25% - 50%. Dengan kata lain, probabilitasnya adalah 1 dari 2 sd.4 student fail. Memang, belum ada yang mempublikasikan data statistik ini secara resmi, karena dari pihak uni sendiri juga tidak memperkenankan data seperti ini terekspose (mungkin dengan tujuan supaya calon international student masih mempunyai nyali untuk apply kesini..he..he..)

Aku sendiri juga merasakan ketakutan yang sama ketika melalui masa-masa pembelajaran 2 finance subject yang kuambil semester sebelumnya. Dalam rentang waktu itu, aku jatuh bangun belajar mati-matian untuk sekedar tidak fail. Alhamdulillah, akhirnya berhasil juga masa-masa itu kulewati..fyuhhh...

Awal semester kemarin aku kembali harus melewati satu subject core finance dengan judul tersebut diatas. Minggu-minggu pertama, kami (semua student, bukan hanya aku) dikejutkan dengan betapa garangnya lecturer yang harus kami hadapi, baik di kelas lecture maupun tutorial (kebetulan aku mendapatkan lecturernya juga sebagai tutor). Tanpa segan, beliau menunjuk-nunjuk kami untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memang "jauh diluar" pemahaman kami. Pernah sekali, beliau bahkan membanting bukuku yang berisi jawaban tutorial, karena menganggap bahwa aku hanya mencontek dari jawaban tahun lalu. Sedih sekali, mungkin karena saya belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Kukatakan, "I did it myself last night, how can you say something like that?" Beliau hanya bilang "yang kuharapkan dari kalian adalah concept..sekali lagi concept.. Aku tidak berharap kalian benar dalam menjawab suatu pertanyaan. Yang terpenting bagiku adalah kalian menawarkan pendapat kalian sendiri setelah memahami concept yang ada"

Setelah kasus pembantingan buku itu, aku benar-benar merasa tertantang. Kubaca hampir seluruh bahan yang beliau berikan di awal semester. Dengan teliti kutelusuri rumus-rumus yang ada, tracing back any theories lying behind those formulas. Alhamdulillah, aku mulai memahami konsep dari theory-theory yang berkeliaran di balik mata kuliah portfolio theory ini. Beliau yang pada awal-awal semester selalu membuat kedua lututku lemas, selanjutnya menjadi ramah sekali. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan menunjukkan kalau beliau memang superb di bidang finance.

Begitu banyak pertanyaan yang belum dan tidak terjawab dari pengajar-pengajar sebelumnya, terjawab oleh beliau. Dan ini melengkapi mata rantai yang putus-putus selama aku belajar finance. Sungguh, tersambungnya mata rantai seperti inilah yang selama ini kucari. Bukan hanya sekedar belajar agar dapat mengerjakan exam dengan baik,yang kemudian berlalu seiring dengan waktu. Terima kasih bapak dosen, angkat topi buat anda :)