Baru-baru ini, suami mempunyai suatu urusan yang membuatnya harus pergi ke kantor polisi. He..he..jangan berpikir yang negatif dulu ya.. Rencananya, dia hendak mengajukan Police Clearance, sebuah persyaratan yang harus dipenuhi saat melamar salah satu casual job disini.
Sesampainya di kantor polisi terdekat, suami ditemui oleh salah satu Police Officer, dan terjadilah percakapan berikut:
P: "Good morning, Sir. How can I help you?
S: "Good morning, how're you? I wanna get a Police Clearance. Can I get it here, please?
P: "Yes sure, Sir. It will be finished in 2 weeks and cost you A$ 46.50."
S: "Ok then." kata suamiku sambil mengeluarkan kartunya.
P: "I'm sorry, Sir.. but we don't accept a plastic here" police tersebut mengisyaratkan bahwa mereka hanya menerima cash, alih-alih kartu debit/kredit.
S: "That's alright. But let me take out some cash then, since I don't bring any" ujar suamiku.
P: "Ok, see you"
Sekembalinya dari mesin ATM, suami segera menuju ke counter dimana bapak polisi yang tadi melayani berada. Namun ternyata, si petugas telah berganti dengan sosok yang lain. Kali ini, polisi pengganti terlihat jauh lebih tua. Setelah berbasa-basi sebentar, si petugas berkata:
P:"Yup, the cost is A$47.50 and it will take about 2 weeks max."
Suamikupun menyerahkan uang sejumlah tersebut di atas. Namun demikian, tak luput timbul pertanyaan dalam hati suami: kenapa cost yang diminta berubah, lebih besar $1 dibanding petugas awal. Karena selisih yang ada tidak begitu material, dia tidak begitu mempersalahkannya. Tidak ada bukti berupa receipt (kwitansi) yang diberikan.
Suamipun keluar dari kantor polisi, menuju tempat dimana mobilnya diparkir. Belum sampai pintu mobil terbuka, terlihat seseorang berusaha menghentikan suami.
"Excuse me, sir"... teriak seseorang sambil berlari-lari. Oh..ternyata si bapak-polisi-tua-yang-melayani-terakhir-kali.
"I've made a mistake about the cost" katanya terengah-engah, maklum jarak antara kantor polisi dengan tempat parkir lumayan jauh. "I should say A$46.50, instead of A$47.50." terangnya lagi.
"Here's your change. I'm really sorry about that" katanya sambil menyerahkan koin satu dollar-an.
"Thank you" sahut suamiku saat si polisi menjauh, antara terpana dan bingung hendak mengucapkan kalimat apa yang tepat.
Kisah di atas adalah nyata adanya. Kisah yang mencerminkan sebuah kejujuran yang saat ini sepertinya sudah jarang bisa kita temukan. Masih teringat, bagaimana kasus polisi Indonesia yang sempat tertangkap oleh kamera dan beredar di YouTube. Masih terngiang, bagaimana polisi menghentikan motor kami di depan kantor tempat aku bekerja sambil memberikan isyarat bahwa proses pengadilan akan jauh berbelit (tanpa kami tahu, kesalahan apa yang kami perbuat).
Saya percaya, masih banyak polisi Indonesia yang jujur dan mempunyai komitmen yang tinggi atas pekerjaannya. Semoga, kisah ini bisa menjadi salah satu pemicu semangat bagi para polisi Indonesia dan kita semua untuk menjunjung sebentuk kejujuran. Hanya demi mengembalikan uang satu dollar yang bukan haknya, si polisi tua rela berlari jauh. Uang yang bahkan, kalau tidak dia kembalikanpun, tak seorangpun akan mengetahuinya karena tak ada receipt maupun tanda bukti yang tersurat. Hanya sebentuk kejujuranlah yang telah menggerakkan kaki-kaki polisi itu. Untuk mengembalikan uang satu dollar yang bukan haknya. Hanya satu dollar.
Adelaide, 8th March 2008