Tuesday, July 27, 2010

Due Date, Final Date, Date Line...Whatsoever




Those words have haunting my life recently. Rush and (think) fast become main and supple. I thought when I just passed those two years, I would say goodbye to them, but unfortunately I wouldn't. Oh gosh, doing my works, not included other "side-jobs", had made my 24-hours never enough. Not saying the-most-important-duty as a mother. Leaving my daughter at home till night creates a guilty-feeling inside. Seeing her sleeping while I get home tores my heart apart. Reading her messages begging me to come home earlier pushes my brain into an off-mode.

For sure, I don't have enough quantity of time for my family and that's why I started to think about my quality of time.

And how could that happen?

Friday, March 26, 2010

Jokes

My daughter really loves laughing.. everything makes her laugh: jokes, funny video, even any uncommon face mimic could make her laugh :D. These are jokes that my daughter gave me recently. The source could be from anywhere: newspaper, magazines, friends, or she sometimes made them by her own. I share these just to make you guys laugh as well.. relax and laugh .. just like me when I got them!

Q : "What food does a ghost serve on halloween?"
A : "Ice-scream"

Q : "What is a tree's favourite drink?"
A : "Root-Beer"

Q : "What do mice do when they are at home?"
A : "Mouse work" ..(instead of house work :D)

Q : "Why did the lamb go out in the middle of the night?"
A : "It was sheep-walking!"

Q : "What letter does a sailor love?"
A : "It's C (sea)!"

Q : "What ballet does a squirrel love?"
A : "It's the nut-cracker!"

Q : "Why did boys bring ladders to school?"
A : "Because they wanted to go to high school!"

Q : "Why does a dog need fur?"
A : "So that no-one can smell his under-arm!"

Q : "What animal falls from the sky?"
A : "Rain-deers!"

Q : "How do you cut the sea?"
A : "By a see-saw!"

Q : "What do you call crows that stick together?"
A : "Velcro!"

Q : "How do bees go to school?"
A : "By buzz!"

Q : "what fish you see in space?"
A : "Star-fishes!"

Q : "Who is the mother of Ya?"
A : "MamaYa!" (because its father is PapaYa:D)

To be continued ...

Saturday, August 22, 2009

I Thought I Was


I thought I was strong ..
When I tried to retie those knots

I thought I was brave ..
For the first time I opened the pages and looked at those pictures

Unfortunately I wasn't ..
I realized it as I still felt hurt deep inside
I recognized it as I felt blue looking those smiles
I admitted it as I saw a deep scratch remained in here

And here I am ..
Busy untying the knots ..
In order not to see those pictures again,
To erase those snapshot of smiles,
To rebuild this crack inside
For which only remind me...
How weak I am


Jakarta, in the mid of first Ramadhan

Note: Picture was taken from here.

Monday, July 27, 2009

Pak Tasiran


Gambar bukan hasil jepretan saya sendiri, tapi diambil dari sini.

Melintasi lajur tol Bintaro - BSD, sempat kulihat bentangan sawah itu. Berada disisi kiri jalan tol, sawah itu nampak kuning mengemas, siap untuk dipanen saat tiba masanya. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah bertekad untuk pergi kesana suatu hari nanti. Maklum, jarang-jarang bisa pergi dan melihat sawah di tengah rimba ibukota yang semakin padat ini.

Dan akhirnya, keinginan itu terwujud Sabtu pagi kemarin. Dengan semangat kukayuh sepeda merah jambuku bersama si kecil yang dengan setia berpegang erat di pinggang, menuju hamparan pematang yang semakin menguning. Suami juga terlihat mengayuh sepedanya sendiri dengan sepenuh energi.

Ternyata medan menuju kesana tidaklah mudah. Banyak tanjakan dan turunan yang harus kami lalui. Fyuhh.. namun akhirnya kami sampai juga. Sepeda terpaksa kami parkir di tempat yang agak jauh, mengingat jalan setapak menuju sawah terlalu curam untuk dilewati sebuah sepeda. Pematang yang becek menyambut kami, membuat sandal dan sepatu terasa menebal oleh lumpur yang melekat. Kawanan burung terbang, sepertinya terganggu dengan kedatangan kami. Di kiri kanan, jajaran rapi tanaman kacang tumbuh dengan suburnya. Di depan, nampak rimbunan pohon semak belukar yang tumbuh dengan lebat, menutup pandangan kami ke sawah tujuan kami.

Dan akhirnya, di balik rimbunan semak, kami telah sampai pada apa yang telah kami niatkan sejak awal. Nampak hamparan luas rumpun padi terbentang di hadapan kami. Subhanallah, indah sekali. Warna keemasan merajai pandangan, diselingi hijau daun tumpang sari yang tumbuh di sela-sela. Kicau burung riuh bersautan, berebut bulir-bulir padi yang nampak bernas.

Di kejauhan, terlihat dua ibu yang tengah sibuk merontokan padi dan menampungnya di atas bentangan karung goni. Nampak pula bapak tani menjalin tali temali yang menghubungkannya dengan beberapa orang-orangan yang tersebar di seluruh penjuru sawah. Sungguh, bukan sebuah pemandangan biasa.

Putriku dengan semangat ikut membantu pak tani menghela tali, mengusir kawanan burung lapar yang selalu siap mematuk butiran beras yang telah siap panen itu. Sambil menunggu, kusempatkan duduk di bangku bambu tempat pak tani bekerja, sembari bercakap dengan beliau. Pak Tasiran namanya, berasal dari daerah Batu, Malang. Tinggal di daerah Kampung Sawah dan bertani disitu sejak 1959. Hmmm...bukan waktu yang sebentar, pikirku. Kutanya pula kepada beliau mengenai status kepemilikan lahan, dengan jawaban yang sudah dapat kutebak dari awal: bahwa lahan dimana sawah tempat beliau bertani tersebut milik salah satu pengembang besar di wilayah Bintaro. Justru jawabannya akan mengherankan apabila lahan tersebut adalah milik beliau seorang, mengingat nilai tanah yang menyentuh enam digit per meter perseginya menjadi sangat berarti jika dibandingkan dengan hasil panen per tahunnya.

Alhamdulillah, banyak pelajaran yang dapat kami petik dari kunjungan ini. Pak Tasiran, dengan segenap kesederhanaan dan ketekunannya mampu mengetuk hati kami bertiga. Tubuh rentanya tidak mampu menyembunyikan semangat beliau untuk terus berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya, ditengah segala kesulitan yang dia hadapi. Namun diantara semua kesulitan yang ada, beliau tetap tersenyum. Dengan sabar, dia jawab semua pertanyaan kami. Tiga prinsip yang selalu beliau pegang: sabar, ikhtiar, dan jembar. Sabar untuk semua ujian yang harus dihadapi, berikhtiar untuk hasil yang terbaik, dan jembar dalam menyikapi semua permasalahan (luas - mungkin lebih tepat apabila diartikan untuk selalu berpikir positif). Pak Tasiran, hatimu mungkin terbuat dari emas, seemas lautan padi yang setiap hari engkau kelola.

Jakarta, medio 28 Juli 2009.

Tuesday, December 23, 2008

Komunitas Mata Air

Musim hujan telah tiba. Mata air di depan rumah mulai mengeluarkan tetesan air setelah sekian lama kering akibat musim kemarau. Perlahan, genangan air mulai terbentuk seiring dengan semakin derasnya air yang mengalir. Dan satu persatu, binatang-binatang kecil mulai menampakkan dirinya, meramaikan komunitas mata air yang hanya muncul di musim hujan.

Pandangan pertama jatuh kepada yuyu, sejenis kepiting kecil yang biasa hidup di air tawar. Mereka terlihat bercanda menikmati beningnya air. Ketika bayanganku mendekat, dengan gesit mereka bersembunyi ke lubang sarang yang tersebar di sepanjang mata air.

Ikan-ikan kecil terlihat pula meramaikan biota kecil tersebut. Berenang-renang dengan lincah, mencari sela diantara yuyu-yuyu kecil yang sibuk menggali sarang baru.

Capung jarum merendah dan hinggap di permukaan air. Mungkin sekedar melepas lelah dan haus setelah berkejaran di padang ilalang yang terbentang dekat mata air. Capung merah merona menyala juga tampak hadir di ilalang. Sinar matahari yang mulai menyengat sepertinya tidak menyurutkan keceriaan mereka.

Komunitas mata air, sebuah komunitas yang mungkin sudah sangat jarang bisa ditemui di ibukota yang padat penuh ini.Komunitas yang mungkin akan menghilang seiring dengan bermunculannya perumahan-perumahan baru di lingkungan tempat aku tinggal. Yah, namun setidaknya saat ini aku masih bisa menikmatinya, menjadi saksi hidup bahwa di depan rumahku pernah tinggal kawanan yuyu kecil yang hidup dengan bebas. Entah hingga kapan mereka sanggup bertahan dan menampakkan dirinya di musim penghujan dan bergabung dengan kawanan yang lain, membentuk sebuah komunitas yang terpinggirkan. Komunitas mata air.

Jakarta, 18 December 2008
Di penghujung tahun, menjelang libur panjang

Friday, November 21, 2008

No title

Apa yang kamu rasakan
Saat semua kondisi yang mengepung
Melilitmu hingga membuat rongga dada terasa penuh
Sesak

Apa yang kamu lakukan
Saat semua kewajiban telah engkau tunaikan
Tapi segala hak terabaikan

Apa yang harus kamu lakukan
Saat sosok-sosok di sekeliling
Tak bisa menangkap apa yang kamu inginkan
Apa yang engkau harapkan
Apa yang engkau tanyakan

Bukankah semua reaksi timbul dari suatu aksi?
Tapi kenapa aksimu tidak menimbulkan reaksi dari orang-orang di sekitar?
Hanya tembok-tembok bisu yang engkau hadapi
Tanpa balas, tanpa riak

Dan kamu akan semakin tersesat
Saat memasuki labirin yang tanpa batas
Dengan tembok-tembok pembatas berupa orang-orang yang seharusnya memberikan petunjuk arah kepadamu
Tanpa ujung, hingga kamu harus kembali ke tempat kamu berawal
Berputar-putar dan makin tersesat
Dan hanya satu pertanyaan yang muncul di kepala: kemana dan kapan labirin ini akan berakhir?



Jakarta, 21 November 2008
Hanya melepas kepenatan di tempat kerja dengan tanpa pola kerja

Monday, May 12, 2008

Berita dari Kampung Halaman

Pesan pendek dari kakakku mengetuk jantungku, menggoyangnya keras. Denyut nadiku mendadak berubah menjadi cepat, napas terasa memburu, membutakan segala logika yang seharusnya hadir saat itu. "Bapak masuk ICU, nik. Jantungnya kambuh," demikian pesan yang kuterima dari kakakku, di tengah lecture salah satu mata kuliah ekonomi Jumat siang lalu.

Ya, memang sudah beberapa tahun belakangan ini bapak menderita sakit jantung. Pembesaran jantung lebih tepatnya. Jantung yang membesar tersebut memerlukan rongga lebih, mendesak paru-paru yang terletak berdekatan, sehingga nafas bapak seringkali menjadi sesak. Akibatnya, puluhan butir obat harus dikonsumsi setiap harinya, untuk mencegah si jantung mengalami pembesaran lebih lanjut.

Mataku menerawang jauh. Terlempar pada kenangan puluhan tahun yang lalu, disaat aku masih berumur kurang lebih tiga tahun. Saat itu, bapak yang mengabdi sebagai pegawai negeri, menjalankan dinas di kota Solo. Sementara istri dan tujuh anak-anaknya masih tinggal di Pati, sebuah kota di ujung utara Jawa Tengah.

Saat itu, kami sedang bermain di seberang sungai di depan rumah. Bapak terlihat dari jauh, sepulang tugas beliau di kota Solo. Beliau berjalan ke arah kami sambil membawa bungkusan yang saya tahu adalah oleh-oleh buat anak-anaknya. Segera kusambut bungkusan tersebut. Dan mataku terbelalak, terpana pada warna-warni bungkusan es Jollie di dalamnya. Saat itu, produk es Jollie sedang populer dan iklannya sering kami lihat di tayangan televisi. "Jollie, jollie, jollie, sehat dan berseri...untuk setiap hari.." begitu kira-kira bunyi jingle iklan es tersebut di TV. Dan saat itu, rasanya sungguh tak percaya bahwa produk tersebut sudah ada dalam genggaman tangan. Terlihat begitu segar, di tengah panas terik kota pesisir yang kami tinggali.

Dan saat ini, bapak sedang lemah tak berdaya. Terbaring di rumah sakit, lengkap dengan alat perekam detak jantung disampingnya. Bapakku yang dulu terlihat gagah, kuat, dengan kumis melintang yang selalu membuatku takut untuk dicium. Bapak, ananda sebentar lagi pulang. Dua setengah bulan lagi. Tumbuhkan semangat dalam dirimu.. tegarkan bahumu. Agar tumbuh asa yang tersisa dalam hati ini,untuk mencium tanganmu. Menikmati gurauanmu. Memeluk hangat kokoh badanmu. Tunggu aku, bapak...

Tuesday, March 18, 2008

Kisah di Balik Angkutan Umum (2)

Dari seluruh hasil pengamatan pada postingan sebelumnya, tidak ada yang kalah unik dengan tingkah salah satu penumpang bus jurusan Yogyakarta - Solo saat kami pulang mudik beberapa tahun yang lalu. Saat itu, ada seorang penjual yang menawarkan barang berupa alat untuk memotong kuku. Setelah sedikit bercuap-cuap di depan mempromosikan barang dagangannya, si bapak penjual mulai membagikan pemotong kuku tersebut. Satu untuk masing-masing penumpang. Saat itu, karena sibuk menenangkan putri saya yang kepanasan, saya tidak begitu memperhatikan keadaan sekitar. But, my husband did. Sesuai dengan cerita suami, salah satu penumpang yang kebetulan duduk di dekat kami dengan segera menyambar pemotong kuku yang dibagikan tersebut. Dengan sigap, dipotongnya kesepuluh kuku-kuku jarinya. Tak ada yang tertinggal. Tidak lupa, dikikirnya pula kuku-kuku tangannya dengan permukaan bergerigi yang terdapat di balik alat tersebut.

Saat penjual mulai menarik barang dagangannya, terlihat hanya beberapa orang yang memberikan uang sebagai pengganti si pemotong kuku. Sebagian besar penumpang mengembalikannya kepada si penjual, yang berarti tidak ada transaksi jual beli yang terjadi. Termasuk salah satunya, si bapak yang sebelumnya terlihat sibuk memakai barang yang memang dimaksudkan untuk diperjualbelikan tersebut. Dengan santainya, dia mengembalikan kepada si penjual tanpa terbersit perasaan bersalah sedikitpun.

Saat mendengar cerita suami, saya hanya mampu terheran-heran. Terbayang bagaimana kusutnya penampilan si penjual saat itu, cukup menggambarkan bagaimana lelahnya dia menawarkan barang dagangannya dengan berpindah-pindah dari satu bus ke bus yang lain. Sampai hati si bapak tadi, yang sudah maksimal menggunakan tapi tidak mau membelinya. Padahal, saat itu potongan kuku cuma ditawarkan dengan harga seribu rupiah. Hanya seribu rupiah.

Aku berandai-andai jika aku melihat sendiri peristiwa itu. Akan kubeli dua pemotong kuku, satu diantaranya kuberikan ke bapak tersebut, satunya lagi hanya sebagai alasan supaya tidak terkesan bahwa kami menyindir si bapak (padahal iya..he..he..)
Dunia .. oh .. dunia ... ada-ada saja tingkah laku manusia..

Kisah di Balik Angkutan Umum (1)


Dari dulu, saya senang sekali menggunakan jasa angkutan umum. Dari angkot, bajaj, metromini (asal mendapatkan tempat duduk :), kereta api, ojek, becak (apalagi kalau atapnya dibiarkan terbuka..hi..hi), hingga andhong. Bahkan sebelum menikah, saya hafal dengan jalur-jalur metromini di Jakarta. Jadwal kereta api salah satu rute yang paling sering saya tumpangi juga selalu terlipat rapi di dompet, pertanda bahwa setiap saat saya siap untuk bepergian dengannya.

Memperhatikan tingkah laku orang di sekitar tempat saya berdiri atau duduk menjadi salah satu hal yang mengasyikkan. Ya, kalau sedang macet atau menunggu kereta yang bersilangan lewat, what else can be done:). Apalagi saya bukan tipe orang yang bisa membaca dengan nikmat saat berada di angkutan umum.


Sewaktu saya masih tinggal di rumah kontrakan di bilangan Utan Kayu, angkot dengan seri M35 selalu setia mengantarku pulang pergi dari dan ke kantor. Apalagi kalau suami sedang lembur atau dinas ke luar kota. Akibatnya, aku sempat hafal dengan tingkah laku hampir semua sopir, mengingat sopir dengan trayek tersebut hanya dipegang oleh beberapa orang. Salah satu sopir gemar sekali ngebut. Jajaran polisi tidur yang memenuhi jalur Senen - Utan Kayu dan terbaring tak berdaya tidak pernah diperhatikannya. Walhasil, penumpang dibuat sebal karena setiap kali kepala mereka terantuk dengan atap kendaraan. Karena sudah hafal, saya selalu memilih untuk duduk di samping bapak supir yang sedang bekerja setiap supir 'perally' tersebut memegang kendali. Paling tidak, efek benturan tidaklah separah bagi yang duduk di belakang.


Kereta api. Menggunakan jasa kereta api ekonomi jurusan Bintaro/Serpong - Tanah Abang/Kota pada hari libur juga sangat saya gemari. Apalagi kalau bukan karena hadirnya puluhan penjual berbagai macam produk dan hasil bumi dengan harga yang murah meriah. Bayangkan, saat itu jeruk mandarin bisa kudapat hanya dengan 5000 rupiah untuk setiap 10 bijinya. Semangka tanpa biji satu bulat besar bisa kubawa pulang tanpa perlu merogoh kantong dalam-dalam. Belum lagi buku-buku gambar dan berbagai macam poster yang sangat bagus untuk sarana belajar anak-anak, jepit rambut yang penuh warna, majalah wanita yang sudah out of date tapi masih layak baca, hingga aneka makanan dan buah yang sudah jarang kita temui: kacang kedelai rebus yang masih melekat di kuntum coklatnya, tape uli, duwet (jamblang), bahkan buah kecapi. Jumlah penumpang pada hari libur yang tidak begitu banyak membuat para pembeli merasa nyaman untuk memilih barang yang disukai. Namun sayangnya, kenikmatan tersebut tidak bisa saya rasakan pada hari-hari biasa, karena jumlah penumpang yang padat dan berjejal. Akibatnya, alih-alih menggunakan kereta kelas ekonomi, saya lebih suka membeli tiket kereta AC yang lebih mahal. Tentu saja dengan mengorbankan opportunity cost berupa keasyikan membeli barang-barang ekstra murah tersebut..ha..ha..


Kembali pada kegemaran saya menikmati tingkah laku penumpang lain. Dulu sekali, sebelum saya menemukan kegemaran yang satu ini, saya lebih suka tidur. Mau di dalam angkot yang ngebut ampun-ampunan ataupun metromini yang gemar ngerem mendadak, saya bisa tertidur nyenyak. Sampai bermimpi malah...ha..ha.. (asal jangan ngeces aja ya..hi..hi..). Bahkan, pernah saya jatuh terduduk dari bangku oranye menyala di sebuah metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu, saking yahudnya saya tertidur. Padahal asal tau aja, dari arah Blok M jarak yang kutempuh tidak begitu jauh, mengingat kantor tempatku bekerja saat itu terletak di daerah Purnawarman, Kebayoran Baru. Terdorong hingga sampai ke depan, yang terjadi karena efek kelembaman saat si Metro berhenti mendadak, juga pernah. Sebenarnya penyebab utamanya adalah pegangan tanganku yang saat itu tidak terlalu kuat karena, tentu saja: tidur sambil berdiri !!! Hwarakadah...

Namun, semenjak saya menemukan keasyikkan tersendiri dengan memperhatikan tingkah laku penumpang, kebiasaan tidur di angkutan umum jauh berkurang. Ada penumpang yang selalu tertidur (he..he..aku punya teman rupanya:), membaca koran/buku setiap saat, sibuk memilih barang yang ditawarkan oleh penjual tapi tidak membelinya, melamun sambil membuang pandangan ke luar jendela, bahkan ada yang sering keliatan asyik ... NGUPIL .. hi .. hi .. hi ..


Picts are taken from here, here, here, and here.

Wednesday, March 12, 2008

Northern Lights Festival

Beberapa hari yang lalu, kami mempunyai waktu luang untuk membelah malam kota Adelaide. Kebetulan, waktu kami beberapa hari terakhir ini tidak lagi menjadi scarce resource. Dan, kamipun mengambil kesempatan itu. Berjalan-jalan sambil melihat Northern Lights Festival yang diadakan di pusat kota. Tentu saja, tetap dengan mempertimbangkan opportunity cost bahwa kami harus menunda tidur malam kami yang manis.

Festival lampu diadakan di empat bangunan di pusat kota, yang keempatnya terletak berdampingan: 2 gedung University of Adelaide, South Australian Museum, dan State Library of South Australia. Semula, kami kira festival tersebut akan berlangsung biasa saja. Apalagi siang harinya, kami baru saja dikecewakan oleh salah satu pameran animal show yang sangat mengecewakan, tidak sebanding dengan biaya tiket yang harus dikeluarkan. Namun ternyata perkiraan kami salah. Saat kami tiba di tempat pameran, wahhhhh... indah sekali.

Di depan masing-masing gedung tersebut, diletakkan box besar berisi proyektor yang berfungsi menyorotkan cahaya ke muka bangunan. Alhasil, cahaya tersebut sanggup merubah total penampakan gedung-gedung tersebut. Sulit digambarkan dengan kata-kata. Bahkan, foto-foto yang kami hasilkan juga tidak sanggup mewakili keindahan tersebut (he..he..alesan aja, padahal yang dipakai kamera abal-abal:). Coba lihat beberapa foto berikut, dan berikan komentar anda:)



Coba bandingkan dengan yang ini:



dan ini...




Gambar di atas adalah Bonython Hall (salah satu bangunan Adelaide Uni), sebelum dan sesudah disulap oleh lampu festival. Perubahan yang cantik bukan?


Mari berpindah ke gedung lain di universitas yang sama, Elder Conservatorium of Music.

Penampilan sepanjang hari:



Tampilan setelah dipapar oleh lampu festival:

Tema: Musik


Tema: Penuh dedaunan yang menjalar


Tema: Coklat


Dua gambar lain yang sempat kami tangkap dan saya anggap layak untuk ditampilkan:







Untuk mendapatkan efek 3 dimensi pada dua bangunan yang lain, selain sisi muka gedung, lampu juga dipaparkan pada sisi-sisi samping. Berikut gambarnya:







Perhatikan detail pada gambar berikut: terdapat gambar stempel, lembaran koran-koran lama, dan juga surat tulisan tangan yang dikirim lewat pos (theme sesuai sekali dengan fungsi gedung, library). Detail yang sangat cantik dan rumit bukan?




Dan, akhirnya kamipun pulang. Sungguh, kami sangat puas dengan festival ini. Cantik dan mengagumkan karena efek lampu begitu memperhatikan detail yang sangat rumit. Tak ada bayangan lampu yang meleset. Setiap lubang, jendela, pintu dan ornamen-ornamen gedung diperhatikan. Sangat puas, mengetahui opportunity cost yang kami korbankan tidak sebanding dengan pengalaman yang kami dapat (Duhh .. maaf ya kalau bahasanya serba cost dan expense, baru belajar ekonomi soalnya:)

Saturday, March 08, 2008

Sebentuk Kejujuran

Baru-baru ini, suami mempunyai suatu urusan yang membuatnya harus pergi ke kantor polisi. He..he..jangan berpikir yang negatif dulu ya.. Rencananya, dia hendak mengajukan Police Clearance, sebuah persyaratan yang harus dipenuhi saat melamar salah satu casual job disini.

Sesampainya di kantor polisi terdekat, suami ditemui oleh salah satu Police Officer, dan terjadilah percakapan berikut:

P: "Good morning, Sir. How can I help you?

S: "Good morning, how're you? I wanna get a Police Clearance. Can I get it here, please?

P: "Yes sure, Sir. It will be finished in 2 weeks and cost you A$ 46.50."

S: "Ok then." kata suamiku sambil mengeluarkan kartunya.

P: "I'm sorry, Sir.. but we don't accept a plastic here" police tersebut mengisyaratkan bahwa mereka hanya menerima cash, alih-alih kartu debit/kredit.

S: "That's alright. But let me take out some cash then, since I don't bring any" ujar suamiku.

P: "Ok, see you"


Sekembalinya dari mesin ATM, suami segera menuju ke counter dimana bapak polisi yang tadi melayani berada. Namun ternyata, si petugas telah berganti dengan sosok yang lain. Kali ini, polisi pengganti terlihat jauh lebih tua. Setelah berbasa-basi sebentar, si petugas berkata:

P:"Yup, the cost is A$47.50 and it will take about 2 weeks max."

Suamikupun menyerahkan uang sejumlah tersebut di atas. Namun demikian, tak luput timbul pertanyaan dalam hati suami: kenapa cost yang diminta berubah, lebih besar $1 dibanding petugas awal. Karena selisih yang ada tidak begitu material, dia tidak begitu mempersalahkannya. Tidak ada bukti berupa receipt (kwitansi) yang diberikan.

Suamipun keluar dari kantor polisi, menuju tempat dimana mobilnya diparkir. Belum sampai pintu mobil terbuka, terlihat seseorang berusaha menghentikan suami.

"Excuse me, sir"... teriak seseorang sambil berlari-lari. Oh..ternyata si bapak-polisi-tua-yang-melayani-terakhir-kali.

"I've made a mistake about the cost" katanya terengah-engah, maklum jarak antara kantor polisi dengan tempat parkir lumayan jauh. "I should say A$46.50, instead of A$47.50." terangnya lagi.

"Here's your change. I'm really sorry about that" katanya sambil menyerahkan koin satu dollar-an.

"Thank you" sahut suamiku saat si polisi menjauh, antara terpana dan bingung hendak mengucapkan kalimat apa yang tepat.

Kisah di atas adalah nyata adanya. Kisah yang mencerminkan sebuah kejujuran yang saat ini sepertinya sudah jarang bisa kita temukan. Masih teringat, bagaimana kasus polisi Indonesia yang sempat tertangkap oleh kamera dan beredar di YouTube. Masih terngiang, bagaimana polisi menghentikan motor kami di depan kantor tempat aku bekerja sambil memberikan isyarat bahwa proses pengadilan akan jauh berbelit (tanpa kami tahu, kesalahan apa yang kami perbuat).

Saya percaya, masih banyak polisi Indonesia yang jujur dan mempunyai komitmen yang tinggi atas pekerjaannya. Semoga, kisah ini bisa menjadi salah satu pemicu semangat bagi para polisi Indonesia dan kita semua untuk menjunjung sebentuk kejujuran. Hanya demi mengembalikan uang satu dollar yang bukan haknya, si polisi tua rela berlari jauh. Uang yang bahkan, kalau tidak dia kembalikanpun, tak seorangpun akan mengetahuinya karena tak ada receipt maupun tanda bukti yang tersurat. Hanya sebentuk kejujuranlah yang telah menggerakkan kaki-kaki polisi itu. Untuk mengembalikan uang satu dollar yang bukan haknya. Hanya satu dollar.

Adelaide, 8th March 2008

Tuesday, February 26, 2008

Clipsal 500 Adelaide


Clipsal 500 Adelaide yang dimulai sejak tanggal 21 February telah berakhir. Karena kebetulan unit yang kami tinggali terletak dekat sekali dengan jalur rally, banyak fasilitas yang bisa ikut kami nikmati. Termasuk salah satunya, melihat rally 'kelas pagar'. Terinspirasi oleh film The Cars, putri kecilku menjadi satu-satunya anggota keluarga yang paling bersemangat menyambut event rally ini. Saat turun dari mobil antar jemput sekolahnya, dengan bersemangat kaki-kaki kecilnya tergegas berlari ke arah pagar tinggi di ujung jalan unit kami, tempat dimana dia menikmati deru mesin dari mobil-mobil formula 3 yang saling bersaing untuk memperebutkan tempat pertama. Mulutnya tak henti berteriak, menempatkan tokoh-tokoh The Cars ke dalam bayang-bayang mobil yang tak henti berkelebat, yang bagiku, terlihat seperti bayang-bayang dementor sedang bermain quidditch. Efek kelembaman dan momentum dari gerakan mobil-mobil tersebut seperti diabaikan begitu saja, baik oleh perally maupun penonton. Semua larut dalam hiruk pikuk rally yang entah tingkat kebisingannya menembus berapa angka skala decibel.

Setelah tiga hari si kecil menikmati rally kelas pagar, akhirnya kami pun sepakat untuk membeli tiket rally pada penghujung minggu, hari dimana event rally tersebut ditutup. Dengan semangat penuh, kami berangkat pagi-pagi dengan berbekal makanan secukupnya (halah...gaya, cuman 20 meter jalan ini:p ). Singkat cerita, pengalaman kami pada hari itu bertambah banyak. Saya, yang sebelumnya tidak pernah suka dengan deru mesin yang terasa memekakkan telinga, perlahan mulai menikmatinya. Perburuan foto juga berlangsung sukses. Dari semula, memang menjadi niat kami untuk mengumpulkan gambar-gambar yang menarik sebanyak mungkin. He..he.. memang dasarnya kami semua banci foto:)

Sepanjang hari berjalan lancar, kecuali tentu saja, gemuruh suara pesawat tempur sebagai pertanda rally dimulai, tetap menjadi musuh utamaku. Lututku terasa lemas setiap mendengar gelegar pesawat-pesawat tersebut. Pernah kubayangkan kalau kedua lututku ini mungkin terbuat dari gabus, mengingat segala bentuk keterkejutan selalu membuat mereka seperti meleleh, bergetar tanpa sanggup kukendalikan.

Kami sempat pulang untuk menunaikan segala bentuk kewajiban dan, tentu saja, mengumpulkan energy untuk menyaksikan konser musik pada malam harinya. Ya, kami memang dibuat penasaran dengan konser Santana yang akan dilangsungkan sebagai penutup acara. Saat tiba di tempat konser, saya sungguh tak mengira suasana demikian ramai. Tanah lapang tempat konser diadakan tumpah ruah dengan ribuan manusia. Padat, penuh sesak. Sosok kami bertiga yang terhitung mungil menjadi seperti tertelan. Panggung konser tak terlihat, tertutupi oleh punggung-punggung manusia yang memang rata-rata jauh lebih tinggi dibanding kami. Aku hanya bisa tertawa, membayangkan kami adalah liliput yang salah masuk ke dalam pesta kaum raksasa. Dan kami pun pulang jauh sebelum konser selesai, menyadari bahwa sepenggal acara konser yang tidak bisa kami nikmati tersebut cukup mewakili seluruh jalannya acara. Saatnya kembali ke sarang, membasuh kaki yang tebal terselimuti debu, dan merentang tubuh agar seluruh anggotanya dapat menikmati hak untuk melepas lelah.

Wednesday, February 20, 2008

Portfolio Theory and Management



Judul tersebut di atas adalah salah satu subject yang kuambil semester kemarin. Mungkin sudah menjadi berita basi kalau mata kuliah finance menjadi histeria tersendiri bagi sebagian besar student di uniku. Ya, memang menakutkan karena desas-desus liar mengatakan bahwa rata-rata tingkat fail dari hampir seluruh subject finance adalah sekitar 25% - 50%. Dengan kata lain, probabilitasnya adalah 1 dari 2 sd.4 student fail. Memang, belum ada yang mempublikasikan data statistik ini secara resmi, karena dari pihak uni sendiri juga tidak memperkenankan data seperti ini terekspose (mungkin dengan tujuan supaya calon international student masih mempunyai nyali untuk apply kesini..he..he..)

Aku sendiri juga merasakan ketakutan yang sama ketika melalui masa-masa pembelajaran 2 finance subject yang kuambil semester sebelumnya. Dalam rentang waktu itu, aku jatuh bangun belajar mati-matian untuk sekedar tidak fail. Alhamdulillah, akhirnya berhasil juga masa-masa itu kulewati..fyuhhh...

Awal semester kemarin aku kembali harus melewati satu subject core finance dengan judul tersebut diatas. Minggu-minggu pertama, kami (semua student, bukan hanya aku) dikejutkan dengan betapa garangnya lecturer yang harus kami hadapi, baik di kelas lecture maupun tutorial (kebetulan aku mendapatkan lecturernya juga sebagai tutor). Tanpa segan, beliau menunjuk-nunjuk kami untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memang "jauh diluar" pemahaman kami. Pernah sekali, beliau bahkan membanting bukuku yang berisi jawaban tutorial, karena menganggap bahwa aku hanya mencontek dari jawaban tahun lalu. Sedih sekali, mungkin karena saya belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Kukatakan, "I did it myself last night, how can you say something like that?" Beliau hanya bilang "yang kuharapkan dari kalian adalah concept..sekali lagi concept.. Aku tidak berharap kalian benar dalam menjawab suatu pertanyaan. Yang terpenting bagiku adalah kalian menawarkan pendapat kalian sendiri setelah memahami concept yang ada"

Setelah kasus pembantingan buku itu, aku benar-benar merasa tertantang. Kubaca hampir seluruh bahan yang beliau berikan di awal semester. Dengan teliti kutelusuri rumus-rumus yang ada, tracing back any theories lying behind those formulas. Alhamdulillah, aku mulai memahami konsep dari theory-theory yang berkeliaran di balik mata kuliah portfolio theory ini. Beliau yang pada awal-awal semester selalu membuat kedua lututku lemas, selanjutnya menjadi ramah sekali. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan menunjukkan kalau beliau memang superb di bidang finance.

Begitu banyak pertanyaan yang belum dan tidak terjawab dari pengajar-pengajar sebelumnya, terjawab oleh beliau. Dan ini melengkapi mata rantai yang putus-putus selama aku belajar finance. Sungguh, tersambungnya mata rantai seperti inilah yang selama ini kucari. Bukan hanya sekedar belajar agar dapat mengerjakan exam dengan baik,yang kemudian berlalu seiring dengan waktu. Terima kasih bapak dosen, angkat topi buat anda :)

Wednesday, January 16, 2008

Suara-suara itu....begitu Mengganggu

Saat ini kami tinggal di sebuah unit 3 lantai yang terletak berdampingan dengan pusat kota. Dan sarang kami berada di lantai kedua unit tersebut. Kecil, namun cukup nyaman dan, alhamdulillah, lumayan murah untuk seukuran unit di downtown area.

Pada awalnya, semua berjalan damai. Sesuai dengan rencana dan harapan yang telah tertata. Hingga 3 minggu setelah kepindahan kami di unit ini, saat tetangga baru hadir dan tinggal tepat di atas unit yang kami tinggali. Hari-hari pertama masih biasa. Hari kedua, mulai tidak biasa. Suara-suara 'tidak sopan' sayup-sayup terdengar. Suara yang menunjukkan kalau mereka sedang melakukan aktivitas yang paling pribadi. Hari-hari selanjutnya makin keras. Sangat mengganggu.

Banyak usaha yang kami lakukan untuk menghentikan suara-suara itu. Seringkali saya atau suami menggetok atap unit kami dengan sapu, dengan pertimbangan bahwa atap kami adalah lantai mereka, dan berharap mereka 'sadar' kalau kami mendengar dan tidak berkenan. Lumayan effektif untuk untuk sehari dua hari. Selanjutnya??? Hmmm... musti mencari cara yang lain.

Surat kaleng terbukti tidak mempan. Surat yang menunjukkan kalau kami sangat sangat terganggu atas suara-suara yang terdengar setiap malam. Kaleng yang biasanya berbunyi nyaring tiada sanggup berlaga tanding. Si kaleng keok, sepertinya tidak pernah tersentuh dan terbaca.

Ketukan di daun pintu. Tetangga yang lain sudah sering kali mengetuk pintu si pelaku saat kejadian berlangsung (halahh...) Tiada hasil. Hanya umpatan-umpatan dalam hati yang tertinggal bersemayam. Umpatan kesal karena usaha untuk membangun tidur-tidur malam mereka yang manis terburai dan jatuh berkeping-keping.

Alhamdulillah, meskipun mereka melakukannya hampir setiap putaran waktu (pembaca pasti tidak percaya kalau saya katakan bisa sampai lebih dari sepuluh kali dalam sehari kami mendengarnya.. OMG!!!), putri kami selalu 'terselamatkan'. Belum tercemar, karena si kecil full time di child care. Kalaupun kebetulan sedang tinggal di rumah, dia selalu sibuk dengan komputernya, hingga "kicauan burung" pun tak terhiraukan.

Hingga pada satu waktu. Si pelaku perempuan berdiri di depan pintuku, dengan tangannya membawa sepiring kue basah yang terlihat manis. Memperkenalkan diri, bercerita panjang lebar mengenai dirinya. Tidak kupersilakan perempuan itu masuk ke dalam. Aku hanya terpaku, terpana, tidak sanggup berkata-kata. Menyadari bahwa begitu naifnya makhluk yang berdiri di depanku. Tak terhitung keluhan yang mampir di unitnya, si perempuan terlihat tidak sedikitpun merasakan gulana. Saat itu, ingin rasanya kuutarakan betapa "lengkingan-lengkingan" dia telah membuat kami muak. Namun, sejenak ku tersadar, bahwa sosok yang berdiri di depanku tidak akan pernah sanggup menggapai sebuah konsep "put yourself on the other's shoes". Tak akan pernah. Kuterima piring tersebut sambil kuucapkan terima kasih yang penuh basa-basi. Tak lebih.

Dan waktupun berlalu lambat. Suatu malam di tengah musim dingin yang menggigit, kupusatkan seluruh perhatianku pada lembaran-lembaran buku yang terasa tiada pernah habis. Perhatian yang akhirnya berurai setelah terdengar suara teriakan penuh kemarahan yang berasal dari lantai atas.

"What again??? Please, someone stop that crab", bisikku dalam hati.

"I've told you..blank..blank..blank.." terdengar suara bass lelaki merajai malam.

Ooo...this will be perfect for someone who's heading her exams.

"I want you to...blank..blank..blank.." si perempuan menanggapi dengan tidak kalah sengitnya.

Perkelahian itu terus berlangsung, hingga akhirnya... "Prangggg..." suara kaca yang pecah berkeping-keping seolah memberikan sebuah kesimpulan yang sangat dramatis.

"Astaghfirullah..." Dan lututku pun terasa begitu lemas. Aku memang tidak pernah suka terpapar pada suatu bentuk peperangan terbuka.

Mungkin karena peperangan tersebut, atau mungkin karena kekesalan yang terbentuk secara perlahan ataupun bertubi-tubi (di luar "kemesraan" mereka tentu saja:), tidak lama kemudian sepasang manusia yang tinggal di atas kami memutuskan untuk pergi. Kepergian yang berlalu tanpa suara. Hanya ketidakhadiran "suara-suara" yang menjadi pertanda bagi kami, para penghuni unit, bahwa mereka tak lagi melewatkan hari-hari di tempat yang sama. Dan ... berlalulah mimpi buruk kami. Saatnya kembali membangun mimpi-mimpi indah tanpa takut terpenggal oleh lengkingan dan desahan yang tidak penting:p

Wednesday, January 09, 2008

Summer O, Summer


Musim panas mencapai puncaknya. Suhu udara yang berkisar antara 35 derajat hingga 40 derajat skala Celcius sudah menjadi santapan berita sehari-hari. Cenderung basi malah. Yang paling ditunggu-tunggu oleh penduduk South Australia adalah suhu di atas 40 derajat. Bukan ditunggu dengan penuh harapan, tetapi dengan segala kecemasan. Ya, dengan kecemasan. Karena pada saat itu, bepergian menjadi tidak menyenangkan lagi. Panas matahari terasa membakar kulit. Menguras peluh. Mengeringkan tenggorokan.

Situs Biro Meteorology tiba-tiba menjadi acuan dalam membuat jadwal kegiatan, setidaknya bagi keluarga kami. Pada saat suhu diperkirakan panas sekali, warga semaksimal mungkin menghindari kegiatan di luar untuk sementara waktu. Memilih untuk tinggal di dalam rumah atau bangunan berAC yang terasa sejuk dan nyaman. Yang belum memiliki AC, tergegas untuk segera memilikinya. Menyingkirkan kipas angin dan evaporator yang sudah tidak terasa lagi fungsinya.

Dan kami, di unit kami yang kecil, juga tidak ketinggalan dengan kehebohan penduduk setempat. Dengan susah payah, akhirnya kami memiliki AC portable bekas yang alhamdulillah, lumayan murah. Tadinya kami bertahan untuk tidak membeli AC. Selain karena kami akan segera pulang ke tanah air, pertimbangan electricity bill juga selalu melintas di kepala. Tapi, setelah dihajar dengan suhu di atas 40 yang merajai dan mewarnai hari-hari dua minggu yang lalu, akhirnya kami menyerah. Apalagi saat melihat putri kami yang tak hendak memakai baju pada saat tidur malamnya. Bendera putihpun berkibar. That's enough. Masa bodoh dengan tagihan listrik. Tidak peduli bahwa kami akan segera meninggalkan negeri dan unit yang kami tinggali, termasuk AC di dalamnya. Yang nanti biar dipikir nanti, enteng dan gampang.ha..ha..

And here we are! Ready for the summer:)

Pict is taken from here.

Percakapan tentang Sebuah Pertanyaan


Ada satu pertanyaan..
Yang memberontak dari segumpal organ di dalam dada
Belum terjawab
Belum bermakna

Ada satu pertanyaan..
Yang berkehendak untuk lahir dari ujung saraf-saraf lidah
Belum terucap
Belum berarti

Begitu ingin kulontarkan pertanyaan itu
Pada seseorang yang tepat untuk mengulasnya
Tapi segenap unit-unit neuron yang bermukim di benak menolaknya
Seperti biasa, berusaha berpikir logis dalam setiap keadaan

"Cepat..lontarkan pertanyaan itu.." bisik si Hati.

"Jangan..tidakkah engkau tahu wahai Hati.. pertanyaan itu hanya akan menyakiti Hati manusia yang memang dituju untuk menjawabnya" sambung synapsis-synapsis yang berjuluran di benak.

"Menyakiti..atau membuatnya tersudut?" kilah Hati dengan emosi terpancar dari tubuhnya yang merah.

"Apapun Hati.." Benak bersikukuh.

"Tapi aku begitu ingin mendengar jawabannya wahai Benak. Aku begitu ingin.." sahut Hati dengan suara yang semakin pelan. Dia sadar bahwa kala Benak masih begitu kuatnya memegang pendapat, Hati harus mengalah. Ya... sadar seluruh bahwa pada saat itu, Lidah, sang pelontar pertanyaan, sepenuhnya berada dalam kendali sang Benak.

"Maafkan aku Hati. Untuk saat ini, kita belum bisa mendengar jawaban yang ingin kau dengar." tegas sang Benak dengan enggan. Ya..untuk apalagi meneruskan percakapan, disaat begitu banyak organ tubuh lain yang memerlukan pemikirannya. Menunggu perintahnya.

Dan pertanyaan pun masih tergantung di sudut kamar di dalam ruang Hati. Menunggu waktu, dimana sang Benak terlena, atau terlampau lelah untuk meneruskan rangsangan-rangsangan yang singgah di neuron-neuronnya. Pada saat itu, sang Hati akan dengan sigap meraih sang pertanyaan dari gantungannya, untuk kembali membujuk sang Benak memerintahkan Lidah melontarkan pertanyaan itu.

Adelaide,
January 9th, 2008

Pict is taken from here.

Friday, December 07, 2007

Percakapan di Sudut Taman


Musim panas mulai merangkak, mengusir pelan musim semi yang terasa nyaman. Awan hujan terasa jarang menampakkan diri. Petak-petak tanah mulai merekah, menantikan tetesan air untuk sekedar menutup bilur-bilur rekahan yang tampak semakin mengular. Kolam bebek di taman dekat rumah sudah beberapa pekan ini tidak terlihat seperti kolam lagi. Kering, kerontang. Bebek-bebek lucu yang biasanya setia menjadi penghuni kolam itu kini telah pergi, terbang mencari sungai atau kolam lain yang masih menyisakan air untuk mereka berenang.

Putriku sungguh menikmati waktu-waktunya habis di taman itu. Tapi kini, sepertinya kenikmatan itu tidak sesempurna saat kolam itu masih penuh. Alih-alih memberi makan bebek, dia tampak menyibukkan diri berkejaran dengan kupu-kupu di sela-sela petak bunga mawar. Aku duduk di bangku, di sudut taman mawar, sambil memandangi si kecil yang berlarian. Raut mukanya yang kelelahan membuatku segera memanggilnya.

"Sayang.. sini nak... minum dulu"

Dengan semangat dia meneguk air putih dari botol yang kuulurkan kepadanya.

"Mummy..why the pond is dry now?" tanyanya dengan muka ingin tau.

"Ya.. karena sekarang sudah mulai musim panas, sayang. Matahari muncul lebih lama, air yang ada di kolam menguap terkena panas matahari" terangku hati-hati.

"But..but..why there's only little amount of water in Australia. We have lots in Indonesia, we frequently get flooding"

mmmm...pertanyaan bagus. Aku berpikir sejenak, menyusun kalimat yang sekiranya mudah untuk dicerna anak seumur dia.

"Ya, memang begitu. Mungkin iklim dan tekstur tanah yang membuat demikian. Allah menciptakan iklim dan tekstur tanah yang berlainan di bumi ini."

"What is iklim and tekstur tanah? Tanah..you mean soil?" kejarnya lagi.

"Ya, tanah is soil. Tekstur tanah di sini cenderung berpasir, see..pasir tidak bisa menahan dan menyimpan air..." terangku lagi. Dan aku mulai kehilangan arah dalam memilih dan memilah kata yang mudah dimengerti dan tidak.

...

Percakapan pun mengalir, menyita waktu kami di tengah hari itu. Percakapan yang menuntunku untuk terus belajar, demi menjawab beribu pertanyaan yang tiada habisnya.

"Why mummy?"..

"How's mummy?"..

"But...what's the difference?"

Saat menemui jalan buntu dan tidak menemukan jawaban, sering aku melempar balik dia dengan pertanyaan. Atau, kutawarkan dia untuk menemukan jawabannya melalui internet.
Ya, aku memang harus belajar lebih banyak. Kusadari bahwa ibu adalah salah satu mata air pengetahuan bagi putra-putrinya. Dan kusadari pula bahwa aku memiliki sejuta kekurangan dalam hal itu..

Thursday, November 15, 2007

Malaysia ... Tak Akan Pernah Bisa Kau Ambil Budaya Kami !!

Tulisan ini termotivasi dari ribut-ribut mengenai lagu Rasa Sayange yang diklaim oleh pihak Malaysia. Meskipun akhirnya pihak Malaysia sudah mengakui bahwa lagu itu adalah "milik bersama"... (what?? belongs together??), ternyata masih menyusul produk-produk budaya Indonesia lain yang menunggu untuk diklaim.

Baru-baru ini adalah lagu Jali-jali. Mungkin mereka pikir kata-kata 'Cikini' yang ada dalam syair lagu Jali-jali tersebut hanya untuk membuat rhyme dengan syair selanjutnya.. "sampai disini"... Ya, darimana lagi kosakata Cikini mereka datangkan? Atau, buru-buru sekali mereka membuat satu distrik dengan nama Cikini dengan tujuan mengaburkan fakta kalau lagu ini berasal dari Betawi (instead of Langkawi:) Bisa jadi khan?

Yang selanjutnya adalah Reog Ponorogo. Yang satu ini jelas mereka catut seenaknya sendiri dengan menjiplak seutuh-utuhnya fisik dan tarian Reog dan kemudian diberi nama Tarian Barongan. Satu hal yang berbeda, mereka hanya mengganti tulisan di kepala Reog dengan Malaysia (detail selengkapnya dapat diklik disini). Kalau mereka bisa mengetahui tarian ini, mungkin karena hadirnya ribuan tenaga kerja Indonesia yang sudah lama menetap disana, dimana sebagian dari tenaga kerja tersebut berasal dari daerah Ponorogo (maaf, ini hanya hypothesis saya tanpa ada maksud untuk mendiskreditkan siapapun). Tapi, darimana mereka bisa membuat kostumnya? Atau jangan-jangan, mereka mendatangkan perajin reog khusus untuk mengajari mereka bagaimana cara membuatnya. Ya.. masuk akal memang..

Research kecil-kecilan juga saya lakukan untuk tarian-tarian Indonesia yang lain. Terkaget-kaget saya dibuatnya. Tarian Jaran Kepang yang jelas-jelas berasal dari tanah Jawa, ternyata juga diakui sebagai bagian dari budaya mereka (detail klik disini). Di portal tersebut dikatakan bahwa:

"Kuda Kepang menampakkan pengaruh Jawa dan Islam. Pengaruh Jawa terlihat pada pakaian penari-penari..."

Walahhh..ini mah bukan cuma 'pengaruh'... Memang tarian itu mutlak berasal dari Jawa. Logikanya, kalau memang sampai menyebar ke Malaysia, kenapa daerah-daerah lain di Indonesia (yang notabene lebih dekat dibanding Malaysia) tidak terpengaruh? Ya, sekali lagi karena penduduk Indonesia tahu persis kalau tarian ini memang berasal dari Jawa. Dan lagi, masing-masing daerah sudah kaya dengan budayanya sendiri. Asli, otentik, dan melimpah...

Masih banyak tarian lain yang potensial untuk diklaim Malaysia. Sebut saja Tarian Piring (disini) dan Tarian Lilin (disini). Untuk dua tarian ini, di portal memang disebutkan bahwa keduanya berasal dari Sumatra. Tapi mengingat yang sudah-sudah, tidak heran kalau ke depan keduanya diklaim asli dari Malaysia ... he..he...

Dengan adanya permasalahan2 tersebut diatas (yang notabene cuma 'sebagian kecil'), pelajaran apa yang bisa kita ambil? Ya, at least menurut saya sudah saatnya kita sadar dan kembali kepada budaya-budaya yang kita miliki. Kita mempunyai ribuan kekayaan budaya, jangan sia-siakan dengan melepasnya menjadi bagian dari bangsa lain (maafkan sebelumya kalau terlalu menggurui:p). Mengutip dari kata Aa' Gym, mulailah dari diri sendiri. Ya, siapa lagi yang bisa menjaga budaya kita kalau bukan kita sendiri? Caranya? Mungkin dengan memasukkan anak-anak kita ke sanggar tari. Belajar balet memang bagus, tapi lebih perlu lagi untuk belajar tari Jaipong (misalnya). Atau, belajar piano memang perlu. Tapi, apa salahnya kalau kita juga belajar angklung, gamelan atau kulintang? Peran layar LCD juga sangat besar (bukan layar kaca lagi ya...:) Tidak ada salahnya khan kalau dunia pertelevisian kita menayangkan produk budaya dari satu propinsi secara bergantian... Hitung-hitung kontribusi kepada negara..he..he.. Hingga pada saatnya nanti dengan bangga kita akan bisa mengucapkan "Malaysia ... Tak Akan Pernah Bisa Kau Ambil Budaya Kami !! Seluruh rakyat Indonesia sadar budaya"

Pertanyaannya selanjutnya adalah, sudahkah saya mulai mempelajari budaya sendiri? Jawabannya, belum. Karena itu, pada saat kepulangan saya di bulan Juli tahun depan, saya berniat untuk belajar memainkan Siter, alat musik dari Jawa Tengah yang menyerupai gitar. Adakah di antara pembaca yang bisa membantu dimana bisa mempelajarinya?

Wednesday, October 17, 2007

Antara Bahasa, English dan Boso Jowo

Kebetulan keluarga kecil kami diberi rezeki untuk sedikit menambah pengalaman di negeri yang kata orang di kampungku "negoro londo", bukan Australia dimana saat ini kami menjejakkan kaki. Permasalahan yang muncul namun tidak begitu kami sadari selama tinggal disini adalah pemakaian bahasa sehari-hari yang kurang begitu konsisten.

Pada saat awal-awal disini, kami sering menggunakan English selama berdiskusi mengenai topik yang kami tidak ingin putri kecil kami ikut mengetahuinya. Biasanya ini menyangkut debat mengenai perbedaan pola didik yang sebaiknya diterapkan pada perkembangan si kecil, atau memang masalah lain yang dia belum waktunya ikut mendengar:) eg. Gak lucu khan kalau aku lagi nasehatin dia supaya lebih disiplin, eh suami malah menimpali bahwa anak kecil jangan diperlakukan seperti itu karena bla..bla..bla... Yang ada si kecil malah jadi kegeeran khan, dan bisa jadi makin menjadi-jadi. Nah, dalam kondisi inilah biasanya kami sepakat untuk menggunakan strategy "bahasa sandi", yang dalam hal ini English itulah.. Pemakaian bahasa sandi ini juga bukan berarti kami tidak ingin mengajak dia berdiskusi. Kami berdiskusi setiap hari dengan topik bahasan yang biasa dia ajukan.. Sekali lagi, ini hanya untuk topik yang memang belum menjadi atau bukan konsumsi dia.

Seiring dengan perkembangan waktu, si kecil justru lebih menguasai English daripada kami berdua. Perkembangan vocabulariesnya luar biasa. Hingga pada suatu point of time dimana dia memilih untuk speak english actively rather than Bahasa. Tapi tentu saja dia masih menguasai Bahasa meskipun secara Pasive. Akhirnya kamipun sepakat untuk putus hubungan dengan English selama di rumah dan memilih untuk menggunakan Boso Jowo sebagai bahasa sandi, yang tentu saja kurang begitu dia fahami. Untuk sementara permasalahan dapat teratasi.

Waktu kembali berjalan. Mungkin dari seringnya dia mendengar percakapan kami, tanpa diduga, si kecil mulai menguasai Boso Jowo secara passive. Hal ini ditandai dengan tanggapan2 yang dia lontarkan pada saat kami berdiskusi, meskipun tentu saja dengan Englishnya yang makin lama makin paten. Tapi, mengingat tanggapan2 dia cukup mengena, kami mulai merasa bahwa Boso Jowo sudah tidak efektif lagi untuk menjadi bahasa sandi.. Permasalahannya adalah, kami tidak menguasai bahasa lain selain ketiga bahasa tersebut di atas.. Otakpun diputar dan akhirnya suami mengusulkan untuk memakai Boso Jowo Kromo Halus alih-alih Boso Jowo biasa. Tapi karena aku dan suami kurang begitu menguasainya, diskusi kami jadi salah kaprah..malah kadang gak nyambung..ha..ha..

Besar kemungkinan dimana orangtua, sesepuh atau kerabat keraton yang saat ini masih aktif menggunakan Kromo Halus mendengar percapakapan kami, mereka bahkan tidak akan tau bahwa kami sedang berusaha memakai bahasa mereka...duhh...

Tuesday, July 03, 2007

Sakit Gigi

Sungguh, penderitaan yang tak terkira jikalau anda mengalami sakit gigi saat sedang berada di negeri orang. Seperti saya saat ini. Kebetulan saya "dianugerahi" 4 gigi geraham bungsu yang semuanya bandel. Meskipun dokter bilang bahwa tidak terdapat cukup ruang bagi mereka, mereka tetap ingin tumbuh...membuktikan eksistensi diri mereka:P Walhasil, si empunya gigi harus menahan sakit yang rasanya "sedunia" saat salah satu atau dua atau lebih mencari ruang yang tersisa buat menempatkan tubuh putih mereka. Jalan keluar dari sakit gigi ini sebenarnya cuma 1: mengangkat gigi-gigi itu melalui bedah mulut. Sayangnya, sama seperti halnya dengan gigi yang dipunyainya, si empu gigi ternyata juga terbilang bandel. Setiap kali sakit karena "desakan" gigi timbul, selalu berjanji: setelah ini selesai, segera operasi. Tetapi begitu sakit menghilang, ketakutan lah yang muncul: bagaimana nanti kalau ada syaraf yang ikut tercerabut? Bagaimana kalau... Bagaimana kalau... Dan akhirnya...janji operasi tinggal janji:(

Saat ini, ketika kedua kaki tidak lagi berpijak di bumi pertiwi, penyesalanlah yang menguasai: Kenapa tidak dari dulu saja tindakan diambil? Sekarang? Mau ngomong pake bahasa indo saja rasanya susah sekali (saking rasanya yang "aduhai"), apalagi ngomong dengan bahasa lain dengan kosakata "perdentist-an" yang sangat terbatas. Belum lagi biaya jasa dokter gigi yang melambung setinggi langit... Bayangkan... untuk tambal gigi (satu gigi), kita bisa dikenakan -/+ AUS$1000an. Bagaimana dengan bedah mulut (yang notabene bukan dilakukan dokter gigi lagi, melainkan dokter ahli bedah mulut), 4 gigi pula !@&* Gedubrak....

Dan akhirnya, sakit gigi tetap menjadi sakit gigi... Si Empu gigi ternyata terlalu takut dan perhitungan untuk menjalani operasi...